TANJUNG SELOR – Selain kebijakan desa dan masyarakat adat, Bulungan juga mengembangkan strategi ekonomi hijau melalui program One Village One Product (OVOP) berbasis hasil hutan, pertanian, dan hortikultura.
Produk unggulan seperti cokelat dari Desa Pejalin dan Antutan kini telah dipasarkan dalam bentuk kemasan dan ditargetkan masuk gerai Sarinah Jakarta pada 2025.
Bupati Syarwani juga menyoroti Program IAD Lanskap Kayan yang mencakup sekitar 600 ribu hektare lahan di 18 desa dan 4 kecamatan. Program ini membuka akses masyarakat terhadap kawasan hutan dengan prinsip tanggung jawab ekologis dan manfaat ekonomi.
“Dengan pendekatan lanskap, kita bisa memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus merusak hutan. Prinsip ini sejalan dengan tujuan besar pembangunan hijau,” jelasnya.
Dalam paparannya, Syarwani turut menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, mulai dari lembaga internasional, dunia usaha, hingga akademisi. Ia mencontohkan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi batako serta dukungan pembiayaan hijau melalui kerja sama BUMD dalam program Kredit Mesra bagi UMKM dan desa.
Mengakhiri sesinya, Syarwani menegaskan komitmen Bulungan untuk menjadikan pembangunan hijau sebagai jalan utama menuju masa depan. Ia menyebut solusi iklim global dapat lahir dari daerah melalui partisipasi masyarakat, desa, dan komunitas adat.
Sesi seminar ini juga menghadirkan berbagai studi kasus dari daerah lain di Indonesia serta pengalaman internasional yang menegaskan bahwa ketahanan iklim hanya dapat dicapai melalui sinergi dari bawah ke atas, dengan hutan sebagai fondasi utama.(*)
















