TANJUNG SELOR – Semarak peringatan Hari Jadi ke-235 Kota Tanjung Selor dan ke-65 Kabupaten Bulungan turut diwarnai dengan partisipasi aktif dari berbagai desa.
Salah satunya datang dari Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Palas Timur, yang memamerkan beragam produk unggulan hasil karya masyarakatnya.
Dalam stan yang mereka tampilkan, berbagai produk lokal menarik perhatian pengunjung, mulai dari telur ayam kampung, sayuran segar, madu kelulut, dendeng pucuk ubi, hingga sabun cuci piring.
Semua hasil olahan tersebut merupakan buah tangan masyarakat dan kelompok ibu-ibu PKK Desa Tanjung Agung.
Kepala Desa Tanjung Agung, Marco, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi semangat warga dalam mengembangkan potensi desa, terutama dalam sektor usaha mikro dan produk rumah tangga.
“Kami mendukung penuh kreativitas ibu-ibu PKK yang terus berinovasi mengemas produk agar bernilai jual. Lewat pameran ini, masyarakat bisa melihat langsung potensi yang dimiliki desa kami,” ujarnya.
Meski begitu, Marco tak menampik bahwa promosi masih menjadi tantangan utama bagi para pelaku UMKM di desanya. Ia menyebut, masih banyak masyarakat Bulungan yang belum mengenal produk-produk lokal buatan Tanjung Agung.
“Promosi masih terbatas. Bahkan di tingkat lokal pun belum banyak yang tahu kalau di desa kami ada produk-produk berkualitas,” tuturnya.
Selain promosi, persoalan permodalan juga menjadi kendala lain bagi warga yang ingin mengembangkan usahanya. Marco berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan dalam bentuk bantuan modal agar pelaku usaha di desa bisa lebih kompetitif di pasaran.
Lebih lanjut ia menyampaikan, saat ini Desa Tanjung Agung mampu memproduksi sekitar 7 ribu butir telur per hari, dengan total 7.300 ekor ayam petelur yang dikelola masyarakat. Produksi ini tak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tapi juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
“Usaha peternakan ini memberi manfaat langsung bagi warga. Mereka yang sebelumnya belum punya pekerjaan tetap kini bisa ikut terlibat,” jelasnya.
Untuk harga jual, telur dari Desa Tanjung Agung dibanderol Rp55 ribu per piring di pasaran, sementara pembelian langsung di lokasi produksi bisa didapatkan dengan harga Rp50 ribu. Menariknya, sebagian besar pakan ayam yang digunakan berasal dari hasil pertanian warga setempat.
“Dengan cara ini, roda ekonomi di desa kami bisa terus berputar meski di tengah tantangan ekonomi,” pungkasnya.(*)

















