TANJUNG SELOR – Menyambut Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026 yang jatuh pada tanggal 1 Juli 2026 mendatang, Polda Kaltara rutin menggelar kegiatan sosial di berbagai tempat.
Setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke rumah purnawirawan Polri hingga melanjutkan dengan pembersihan sejumlah objek vital, tempat ibadah, Pasar Induk hingga pembersihan Museum Kesultanan Bulungan, pada Sabtu, 20 Juni 2026 kegiatan olahraga dilanjutkan di Mako Brimob Polda Kaltara.
Kegiatannya berupa perlombaan sumpit tradisional warga Dayak. Pembukaan kegiatan ini dihadiri oleh Kapolda Kaltara, Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy dan didampingi sejumlah pejabat penting di lingkungan Polda Kaltara.
Ketua panitia pelaksana kegiatan ini dipercayakan dari Lembaga Adat Dayak Bulungan, Tasa Gung. Kepada wartawan, Wakil Ketua DPRD Bulungan ini menjelaskan lomba menyumpit ini merupakan bagian daripada rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026.
“Jadi kita bersama-sama dengan Polda Kalimantan Utara yang dipelopori oleh Satbrimob Polda Kaltara mengadakan lomba menyumpit,” kata Tasa Gung saat diwawancarai.
Tasa menambahkan, lewat olahraga menyumpit ini diharapkan antara masyarakat dan Polri itu semakin dekat.
“Jadi kita mengadakan perlombaan sumpit dalam meningkatkan kearifan lokal budaya-budaya kita yang ada di Kalimantan Utara, salah satunya perlombaan sumpit dan perlombaan sumpit ini dihadiri oleh peserta dari beberapa kabupaten yang ada di Kalimantan Utara,” jelasnya.
Peserta yang mendaftar, lanjut Tasa, kurang lebih sekitar 300 orang. Peserta memperebutkan hadiah dan uang pembinaan, trofi serta medali yang telah disiapkan oleh panitia.
“Perlombaan ini diikuti oleh tiga kategori, kategori remaja laki-laki, dan dewasa laki-laki serta kategori remaja dan dewasa putri,” bebernya.
Tasa menambahkan, keterkaitan lomba menyumpit ini menjadi salah satu kedekatan Polri dengan masyarakat. Ia menuturkan, pesan Kapolda Kaltara juga menyampaikan akan mengadakan kegiatan ini bersifat rutinitas sebagai bentuk kedekatan antara Polri dan masyarakat di Kaltara.
“Pesan bapak Kapolda tadi lewat sambutannya, supaya kegiatan budaya seperti ini akan semakin ditingkatkan lagi ke depannya,” ungkap Tasa.
Politisi Hanura ini menerangkan, makna lomba sumpit ini merupakan salah satu budaya leluhur yang wajib dilaksanakan secara turun-temurun. Dan di tengah perkembangan zaman, kata dia dengan perlombaan semacam ini menjadi momentum untuk terus mempertahankan potensi budaya bagi warga Dayak.
“Dan ini bagian daripada semangat kami untuk merawat budaya-budaya leluhur yang diwariskan kepada kami,” tutupnya.(*)















