TANJUNG SELOR – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Baperida) Provinsi Kalimantan Utara menggelar lomba inovasi daerah di Lumonor Hotel Tanjung Selor, Rabu (21/10/2026).
Kepala Baperida Kaltara, Bertius, melalui Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah, Mochamad Sarkawi, mengatakan lomba ini diikuti peserta dari berbagai kalangan, mulai dari aparatur sipil negara (ASN), masyarakat, mahasiswa, hingga pelajar.
“Jadi total yang mendaftar ada 170 peserta yang ikut lomba inovasi daerah ini. Ada yang berkelompok dan perorangan,” ucapnya.
Menurut Sarkawi, jumlah pendaftar tersebut menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap penyelenggaraan lomba inovasi daerah. Bahkan, antusiasme peserta berada di luar ekspektasi Baperida Kaltara.
Salah satu peserta dari kalangan pelajar, Anggun Neshia Prameswarie dari SMAN 2 Tanjung Selor, mengangkat inovasi berjudul Mengubah Limbah Kopi Menjadi Solusi Ekonomi Sirkular Kaltara.
Bersama rekannya, Nabila, Anggun mempresentasikan gagasan itu di hadapan dewan juri. Ide itu berangkat dari banyaknya kedai kopi di Tanjung Selor yang menghasilkan ampas kopi begitu saja tanpa bernilai ekonomi.
“Motivasinya itu untuk mengurangi limbah ampas kopi di Tanjung Selor khususnya dan Kalimantan Utara umumnya,” kata Anggun.
Melalui inovasi yang diberi nama Go Put Coffee, singkatan dari magot seruput kopi, keduanya berupaya memanfaatkan ampas kopi sebagai bahan campuran pakan magot dengan tambahan sampah organik dari sayuran dan buah-buahan.
Anggun menjelaskan, ampas kopi dicampur dengan sampah organik itu, kemudian difermentasi selama empat hari sebelum dimanfaatkan sebagai pakan magot.
“Iya, itu ampas kopi, lalu kami campur dengan sampah-sampah organik dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Itu lalu kami fermentasi selama empat hari. Nah, jadinya sebagai pakan magot tadi,” jelasnya.
Ia mengatakan, gagasan itu muncul setelah melihat banyaknya kedai kopi di Tanjung Selor dan wilayah Kalimantan Utara. Sebagai anak muda yang juga gemar minum kopi, ia dan rekannya mulai memikirkan pemanfaatan ampas kopi yang selama ini berpotensi menjadi limbah.
Mereka kemudian melihat peluang pemanfaatan magot untuk membantu mengurai sampah organik, termasuk ampas kopi, sehingga limbah tersebut dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
“Karena kami sebagai anak muda, Gen Z juga, kami melihat banyak sekali kedai-kedai kopi di Tanjung Selor, di Kalimantan Utara juga. Nah, kami selama ini berpikir ampas kopinya itu dikemanakan,” ungkap Anggun.
Menurutnya, inovasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya mengurangi timbunan sampah organik, termasuk yang berasal dari aktivitas perdagangan di Pasar Induk Tanjung Selor.(ns)

















