OPINI- Manusia pada mulanya tak membangun gedung tinggi, tak memiliki bendera, dan tak memisahkan waktu dengan jam. Mereka hanya punya langit yang sama, bumi yang sama, dan nyala api yang sama untuk bertahan hidup. Mereka berpindah mengikuti musim, mengenal alam lebih dalam ketimbang kita hari ini yang menamai diri “modern”.
Dari komunitas pemburu-pengumpul yang egaliter, manusia mulai menetap. Pertanian melahirkan surplus, surplus melahirkan kepemilikan, lalu kekuasaan. Dari situ, lahir kasta, mitos, dan sistem sosial yang melanggengkan ketimpangan. Kita mulai membangun narasi untuk melegitimasi dominasi: bahwa tanah diwariskan oleh langit, bahwa jerih payah bukan hak semua orang, dan bahwa kebenaran bisa dimonopoli oleh satu suara.
Zaman berputar. Perang digantikan pasar. Doa digantikan slogan. Tapi yang paling mengaburkan ingatan kita adalah ketika kebudayaan lokal mulai disaring melalui lensa sempit agama yang datang kemudian. Tarian perang Dayak yang dahulu sarat makna, doa, penghormatan, sejarah perlawanan perlahan dikosongkan. Dianggap mistis, tidak suci, bahkan menyesatkan. Yang tersisa tinggal gerakan tubuh di panggung-panggung wisata. Tak ada lagi roh, hanya kemasan.
Dan di antara deretan perubahan itu, muncul stereotip yang mencoreng wajah Kalimantan Utara (Kaltara). Masyarakatnya, sering kali digambarkan sebagai kaum yang tak punya kebudayaan, tak punya oleh-oleh khas yang layak dijual di pasar pariwisata. Kalimantan Utara yang seolah hanya memiliki laut yang luas, hutan yang lebat, dan wajah-wajah yang lelah oleh hidup. Tanpa cerita untuk diwariskan, tanpa tradisi yang dipamerkan. Stereotip ini tumbuh dari pemahaman sempit bahwa hanya yang “terkomodifikasi” dan bisa dijual lah yang dianggap berharga.
Kita lupa bahwa di balik kebisuan itu ada kehidupan yang kaya akan makna, yang sering kali tak terungkapkan dalam bentuk yang bisa dikemas dan dijual. Masyarakat Kalimantan Utara, dengan segala perjuangan hidupnya, lebih sering terperangkap dalam bayang-bayang konsumsi eksternal, seperti anggapan bahwa mereka hanya bisa menghabiskan waktu dengan memabukkan diri di tempat-tempat yang tak banyak orang pedulikan. Mabuk adalah pelarian dari yang tak tampak, bukan kenyataan yang diinginkan. Stereotip ini bukan cerminan dari kebenaran, tapi dari ketidaktahuan dan pandangan yang mengekang.
Budaya bukan sekadar bentuk. Ia adalah ingatan, rasa takut, harapan, dan pertanyaan manusia pada dunia. Ketika kita menyaringnya lewat doktrin luar, banyak yang tercerabut: makna tentang tanah, tentang langit, tentang keberanian. Kita menuduh leluhur sendiri sebagai kafir, padahal merekalah yang menjaga bumi ini sebelum kita datang membawa sistem yang menyuruh kita melupakannya.
Tapi ini bukan sekadar ratapan. Ini seruan untuk mengisi ulang makna, bukan sekadar melestarikan bentuk. Tarian perang tak cukup ditampilkan, ia harus diajarkan kembali sebagai ingatan kolektif akan keberanian, akan keseimbangan dengan alam. Makanan lokal tak cukup dijual di festival, ia harus diajarkan sebagai ilmu tentang musim, tubuh, dan tanah. Bahasa ibu tak cukup dipakai saat lomba ia harus menjadi alat berpikir dan merasakan dunia.
Solusinya bukan kembali ke masa lalu, tapi menyelamatkan esensi yang hilang. Kebudayaan harus menjadi ruang hidup, bukan sekadar ruang pajang. Ia tidak harus disucikan oleh agama yang datang kemudian, tapi dimaknai ulang dari konteks yang melahirkannya.
Untuk mereka yang terjebak dalam pola mabuk sebagai pelarian, kita harus membuka ruang untuk berbicara tentang realitas yang lebih dalam. Mabuk bukanlah solusi, dan kebudayaan bukan hanya soal pelarian sesaat. Kaltara bisa kembali menggali potensi kebudayaannya untuk menciptakan narasi yang kuat, yang menghubungkan generasi sekarang dengan akar mereka. Ini bukan tentang melupakan atau menghindari kenyataan, tetapi tentang menghadapinya dengan penuh keberanian. Masyarakat Kaltara harus diberdayakan untuk melihat kembali ke dalam diri, merekam untuk merayakan dan menjaga apa yang sudah ada, bukan menunggu label atau pengakuan dari luar.
Untuk soal oleh-oleh yang tak jelas, Kaltara bisa memanfaatkan kekayaan alamnya yang berlimpah tanaman obat, kerajinan tangan, dan tradisi lokal yang kaya akan makna. Ini bukan hanya tentang komodifikasi, tetapi tentang memberikan nilai pada apa yang memang pantas dihargai. Oleh-oleh harus lebih dari sekadar barang untuk dibeli; ia harus menjadi simbol dari cerita yang dibawa pulang oleh setiap orang yang mengunjunginya, kisah tentang perjuangan, tentang keberanian, tentang sebuah dunia yang berbeda dan berharga.
Dan untuk tarian yang kini hanya menjadi seremonial, kita bisa mengembalikannya pada makna asalnya. Tarian perang bukan hanya hiburan atau daya tarik wisata. Ia adalah ritual penghormatan, pengingat tentang hubungan yang erat antara manusia dan alam. Mengajarkan kembali tarian itu sebagai bentuk ekspresi keberanian akan menumbuhkan kesadaran baru akan pentingnya menjaga keharmonisan dengan alam. Ini adalah langkah kecil untuk melawan arus globalisasi yang sering kali mengikis identitas lokal.
Di tengah dunia yang terus bergerak, kita harus belajar membedakan antara kemajuan dan pengikisan. Antara adaptasi dan kehilangan. Dan mungkin satu-satunya cara untuk bertahan adalah berdiri di antara retakan itu dengan penuh kesadaran, bahwa ada yang harus kita jaga, bukan untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan kembali.(*)
Penulis: Stevanus Ronaldo

















