TANJUNG SELOR – Bahasa Dayak, Bulungan dan Tidung didorong supaya masuk dalam kurikulum pendidikan tingkat SD dan SMP di Bulungan.
Hal ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mengatasi perkembangan zaman dan potensi tergerusnya bahasa daerah di tengah perkembangan zaman.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan, Suparmin Setto menjelaskan pelestarian bahasa daerah penting dilakukan untuk menjaga jati diri pelajar sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman bahasa dan budaya.
“Mereka tetap bisa memiliki jati dirinya sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman bahasa,” kata Suparmin, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui Festival Tunas Bahasa Ibu. Kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak penutur bahasa daerah, khususnya bahasa Dayak, Tidung dan Bulungan.
Lewat Festival Tunas Bahasa Ibu, ke depannya banyak penutur-penutur bahasa daerah, bahasa Dayak, bahasa Tidung dan Bulungan, ada di Kabupaten Bulungan yang diperbantukan mengajar bahasa daerah di kalangan pelajar.
Ia menyebut, saat ini penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi penerus mulai mengalami penurunan. Karena itu, diperlukan upaya untuk menjaga agar bahasa daerah tetap digunakan dan dikenal oleh generasi penerus bangsa.
Selain menjaga keberlangsungan penutur bahasa daerah, Festival Tunas Bahasa Ibu juga menjadi ajang untuk membangun motivasi dan rasa bangga anak-anak terhadap bahasa daerah masing-masing.
Ketiga, hal ini sebagai ajang anak-anak membangun motivasi supaya mereka merasa bangga dengan keberadaan bahasa daerahnya masing-masing.
Suparmin menambahkan, kegiatan ini juga dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mendorong mereka menggunakan bahasa daerah dengan baik.
“Dengan bahasa daerah mereka bisa mengetahui jati diri mereka. Harapanya ini bisa diterapkan di kalangan pelajar di satuan pendidkan di Bulungan,” ulasnya.
Saat ini, terdapat tiga bahasa daerah yang masuk dalam kurikulum pendidikan di Bulungan, yakni Bahasa Dayak, Bahasa Tidung dan Bahasa Bulungan.
Suparmin mengatakan, penerapannya memang belum dilakukan di seluruh sekolah. Pembelajaran bahasa daerah disesuaikan dengan kondisi dan komposisi siswa di masing-masing sekolah.(ns)

















