TANJUNG SELOR – Antrean kendaraan kembali mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Kondisi paling parah terlihat pada Rabu (2/9/2026).
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan roda empat, khususnya truk, di SPBU Kilometer 2 memanjang hingga ratusan meter. Bahkan, kendaraan yang mengantre terlihat memenuhi sisi kiri dan kanan badan jalan sehingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Sejumlah truk bahkan disebut telah berada di sekitar SPBU sejak malam hari. Mereka memilih datang lebih awal agar mendapatkan posisi antrean ketika SPBU mulai beroperasi pada pagi hari.
Kondisi serupa bukan kali pertama terjadi. Antrean panjang juga terlihat di sejumlah SPBU lainnya, seperti di Jalan Sengkawit, Jalan Sabanar Lama dan Jalan Katamso, terutama ketika pasokan BBM mulai tersedia.
Maria (38), warga Kilometer 2, menilai persoalan antrean BBM yang terus berulang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait.
Menurutnya, aktivitas kendaraan yang diduga melakukan pembelian BBM untuk kemudian dijual kembali atau dikenal pengetap terkesan dibiarkan tanpa adanya pengawasan yang tegas dari pemerintah daerah.
“Kalau memang ada yang sengaja membeli BBM dalam jumlah besar untuk dijual lagi, seharusnya ada pengawasan. Jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan malah kesulitan mendapatkan BBM,” kata Maria.
Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah truk yang mengantre solar dalam jumlah panjang. Maria mempertanyakan apakah seluruh kendaraan tersebut memang diperuntukkan bagi kebutuhan operasional masyarakat atau memiliki kepentingan lain.
“Yang saya lihat, antrean truk untuk solar ini cukup panjang. Kalau memang untuk kebutuhan perusahaan, tentu seharusnya ada mekanisme atau jatah khusus yang tidak mengganggu kebutuhan masyarakat umum,” bebernya.
Selain solar, kelangkaan Pertalite dan Pertamax juga berdampak pada harga BBM yang dijual secara eceran. Maria mengaku menemukan adanya penjualan BBM dengan harga jauh di atas harga normal.
Untuk Pertamax, misalnya, satu botol air mineral berukuran besar dijual seharga Rp30 ribu. Sementara ukuran setengah botol dihargai sekitar Rp20 ribu.
“Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, masyarakat yang tidak sempat mengantre di SPBU terpaksa membeli eceran dengan harga mahal,” sesalnya.
Kesulitan memperoleh BBM eceran juga terjadi pada Selasa (1/9/2026). Sejumlah penjual eceran disebut kehabisan stok Pertalite maupun Pertamax. Bahkan, salah satu pengecer di Jalan Jelarai Raya menjual BBM jenis Pertalite seharga Rp 19 ribu satu botol.
Maria mengaku mendengar adanya penjual yang mengklaim mempunyai akses khusus untuk mendapatkan BBM dari SPBU. Klaim tersebut, menurutnya, semakin menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat ketika warga justru harus menghadapi antrean panjang.
Fakta di lapangan berbanding terbalik dengan data penyaluran yang disampaikan PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan. Hal itu disampaikan lewat rilis resminya pertamina. Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, sebelumnya mengatakan Pertamina telah menyalurkan sekitar 80 kiloliter Pertalite dan Pertamax ke sejumlah SPBU di Kabupaten Bulungan pada Selasa 1 September 2026.
“Penyaluran ini dilakukan ke SPBU dengan kode nomor sebagai berikut, 66.772.04, SPBU 63.772.02, SPBU 64.772.02, SPBU 66.772.01, serta lembaga penyalur 6P.772.04 di Kabupaten Bulungan,” tukasnya.
Selanjutnya, pada Rabu, 2 September 2026 Pertamina kembali memperkuat distribusi dengan mengirim lebih dari 200 kiloliter Pertalite dan Pertamax secara bertahap ke sejumlah SPBU di Bulungan.(ns)

















