TANJUNG SELOR – Program petani milenial di Kalimantan Utara (Kaltara) terus berjalan sesuai dengan dinamika dan kondisi lapangan. Meski belum memiliki sistem kaderisasi yang formal, geliat dan semangat para petani muda dalam mengembangkan sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan kian terasa.
Ketua Petani Milenial Kaltara, Didi Kadarismanto, menjelaskan bahwa tidak semua orang dapat masuk dalam kategori petani milenial. Ada tiga syarat utama yang menjadi penentu.
“Pertama, mereka harus memiliki lahan sendiri, baik itu untuk pertanian, peternakan, atau perkebunan. Kedua, harus ada penghasilan yang jelas dari aktivitas tersebut,” ungkap Didi, Selasa (15/7/2025).
Ia mencontohkan, seorang petani sayur harus mampu menghitung pendapatan harian maupun bulanan dari hasil panennya.
Syarat ketiga yang tak kalah penting adalah penggunaan alat pertanian modern. Petani milenial identik dengan adopsi teknologi yang memudahkan pekerjaan di lapangan.
“Kalau dulu kita mencangkul, sekarang pakai hand tractor. Dulu menebas pakai parang, sekarang sudah ada ekskavator. Ini bukan soal meninggalkan budaya, tapi bagaimana kita menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” jelasnya.
Di Kaltara, pola kerja petani milenial cenderung bersifat individual. Namun, dukungan dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di bawah Dinas Pertanian tetap hadir, terutama bagi mereka yang terlibat dalam kelompok-kelompok binaan desa.
Gerakan petani milenial ini berfokus pada satu tujuan besar, yakni mendukung suksesnya program ketahanan pangan nasional yang merupakan bagian dari visi besar Presiden Republik Indonesia dan diperkuat melalui kebijakan pembangunan oleh Gubernur Kaltara.
“Program seperti Asta Cita, termasuk penanaman jagung, sudah kami jalankan dan kawal langsung di lapangan,” tegas Didi.
Meski masih banyak petani milenial yang mengandalkan alat pertanian secara swadaya, Didi menyebut dukungan dari pihak swasta maupun Dinas Pertanian mulai terasa dan memberikan dampak positif.
Ia pun menyebut beberapa nama yang menjadi contoh sukses petani milenial di wilayah Kaltara. Mereka adalah Cali dari Pura Sajau, Ismail selaku distributor beras dari Sajau Hilir, dan Deni dari Kecamatan Sekatak.
Ketiganya tidak hanya berhasil secara ekonomi, tetapi juga aktif dalam membina dan memotivasi petani lokal lainnya.
“Inilah wajah petani milenial di Bulungan bekerja di atas lahan sendiri, menggunakan teknologi, mengikuti arus modern, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai lokal. Dan yang paling penting, mereka membuktikan bahwa bertani bisa menjadi sumber penghasilan yang nyata,” tutup Didi.(via)

















