TANJUNG SELOR – Dua pelajar SMAN 1 Tanjung Selor harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soemarno Sosroatmodjo setelah mengalami gejala mual, muntah, dan pusing usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (22/9/2025).
Sebelum dirujuk ke rumah sakit, sejumlah siswa lebih dulu mendapat perawatan di UKS sekolah. Sebagian hanya mengeluhkan rasa tidak enak badan, bahkan ada yang memilih pulang lebih awal dijemput orang tuanya. Namun, dua siswa lainnya terpaksa dirujuk ke RSUD karena kondisi lebih serius.
Kepala SMAN 1 Tanjung Selor, Didik Sukanto, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan insiden bermula sekitar pukul 12.30 WITA, setelah para siswa selesai menyantap hidangan MBG.
“Satu di antaranya mengeluh pusing dan muntah, sedangkan seorang lagi mengalami muntah disertai sesak napas,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD dr Soemarno Sosroatmodjo, dr Widodo, juga membenarkan adanya dua pelajar yang masuk IGD. Menurutnya, keduanya masuk sekitar pukul 13.06 WITA dan sudah diperbolehkan pulang pada pukul 17.00 WITA setelah kondisi berangsur membaik.
“Hasil diagnosa menunjukkan keduanya mengalami gastroenteritis atau gangguan pencernaan, yang salah satunya diduga dipicu makanan atau minuman yang dikonsumsi,” ungkapnya.
Kedua pelajar tersebut berinisial E (16) dan D (15). Meski sempat dirawat, kondisi keduanya kini dinyatakan stabil.
Dikonfirmasi terpisah, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kaltara, Hasanuddin, menyayangkan insiden ini. Ia menyebut ke depan perlu ada evaluasi, terutama terkait pendataan siswa yang memiliki alergi terhadap makanan atau minuman tertentu.
“Kami sangat menyayangkan jika siswa harus dirujuk ke rumah sakit usai mengonsumsi MBG. Ke depan akan ada evaluasi pendataan siswa dengan alergi makanan, agar hal serupa tidak terulang,” tegasnya.
Hasanuddin mengaku tidak mengetahui persis menu makanan yang dikonsumsi siswa, karena setiap hari hidangan MBG selalu berganti. “Kemungkinan makanan yang dikonsumsi tidak cocok dengan kondisi anak, atau secara medis bisa dikatakan alergi. Yang jelas evaluasi harus dilakukan dan ini menjadi perhatian kita semua,” tandasnya.
Sementara itu, Koordinator MBG Kabupaten Bulungan, Andika Setiawan, menyebut kasus ini belum termasuk kategori kejadian luar biasa (KLB) karena tidak terjadi secara massal. Dari laporan pengawas lapangan, diketahui bahwa salah satu siswa yang dirujuk memiliki riwayat penyakit maag.
Andika menjelaskan, MBG pada hari itu diantar ke sekolah sekitar pukul 10.00 WITA, sedangkan jam makan di sekolah dijadwalkan pukul 12.00 WITA. “Ada waktu transit sebelum makanan disantap siswa. Dari dapur, kami pastikan kesegaran makanan masih terjaga karena hanya memakan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke sekolah. Hal ini juga sudah kami sosialisasikan kepada pihak sekolah,” terangnya.
Menu MBG yang disajikan, kata dia berupa nasi goreng, telur orek, tahu, timun, dan tomat. Suplai makanan tersebut berasal dari dapur umum yang berlokasi di Jalan Mangga, Tanjung Selor.(rdk)

















