TANJUNG SELOR – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bulungan mulai mendorong penerapan pendekatan pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di sekolah-sekolah.
Pendekatan ini dinilai mampu menjawab tantangan pendidikan ke depan, sekaligus menyiapkan generasi yang lebih siap bersaing di era modern yang semakin dinamis dan berbasis teknologi.
Penerapan STEM diawali pembekalan bagi semua kepala sekolah tingkat SD di Kabupaten Bulungan, Selasa (28/4/2026).
Saat disua awak media, Kepala Disdik Bulungan, Suparmin Setto menegaskan bahwa STEM bukanlah kebijakan yang kaku, melainkan sebuah metode atau pendekatan dalam proses belajar mengajar yang bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
“Sistem ini saya pikir cocok sebagai bekal kita menyongsong Indonesia Emas 2045,” ucapnya.
Ia menjelaskan, pendekatan STEM tidak hanya berfokus pada teori semata, tetapi juga menekankan praktik langsung, pemecahan masalah, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Ia menambahkan, sistem ini dianggap penting karena akan mendorong motorik anak-anak supaya dapat berfikir kritis dan kreatif, mampu berkomunikasi dengan baik serta bisa berkolaborasi dengan bagus.
Selain itu, penerapan STEM diyakini mampu menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, meningkatkan kemampuan analisis, serta melatih mereka untuk menghadapi persoalan secara sistematis dan logis. Hal ini sejalan dengan kebutuhan dunia kerja di masa depan yang menuntut sumber daya manusia yang adaptif dan inovatif.
Oleh karena itu, lanjut Suparmin, guru didorong untuk menyajikan proses pembelajaran yang cocok untuk peserta didik. Ia menekankan bahwa peran guru menjadi kunci utama dalam keberhasilan penerapan pendekatan ini, terutama dalam merancang metode pembelajaran yang menarik dan relevan.
Suparmin menambahkan, dalam jangka pendek, sekolah diharapkan mulai melakukan penyesuaian dalam proses belajar mengajar dengan melihat dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
“Karena inikan sebuah pilihan ya,” tukasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa penerapan STEM tidak harus dilakukan secara menyeluruh sekaligus, melainkan dapat dimulai secara bertahap melalui integrasi dalam mata pelajaran yang sudah ada. Dengan cara ini, sekolah tidak terbebani, namun tetap bisa mulai bertransformasi.
Sementara untuk jangka panjang, perubahan ini diharapkan membentuk karakter dan kemampuan siswa yang lebih siap menghadapi perkembangan zaman. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari segi keterampilan hidup (life skills) yang menjadi bekal penting di masa depan.
Terkait kesiapan Sarana dan Prasarana (Sarpas) pada satuan pendidikan di Bulungan, kata dia dari sisi tenaga pengajar di Bulungan mampu mengadopsi pendekatan tersebut. Apalagi saat ini sudah mulai digelar pelatihan untuk memperkuat pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran STEM.
“Guru harus bisa. Hari ini saja kita sudah mulai pelatihan untuk mendorong itu,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kapasitas guru akan terus dilakukan secara berkelanjutan, baik melalui pelatihan, workshop, maupun pendampingan langsung di sekolah-sekolah.
Dari sisi sarana dan prasarana, ia menilai sekolah-sekolah pada dasarnya sudah memiliki fasilitas dasar seperti laboratorium dan komputer. Tinggal bagaimana guru mampu berinovasi dalam memanfaatkan sarpas yang ada.
“Lab sudah banyak, komputer juga ada. Tinggal bagaimana guru bisa memodifikasi. Intinya inovasi dan lebih kreatifitas aja,” tandasnya.(*)

















