TANJUNG SELOR – Kabupaten Bulungan masih menyimpan sejuta potensi daerah yang masih akan terus dikembang dengan maksimal. Sebut saja Desa Sajau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan.
Desa Sajau Hilir dikenal sebagai desa ketahanan pangan mengingat luasan lahan pertanian sawah yang sangat melimpah. Dengan luasan lahan yang digarap saat ini kurang lebih sudah mencapai 320 hektare.
Kepala Desa Sajau Hilir, Syahrir menjelaskan bahwa Desa Sajau Hilir pada tahun 2022 berhasil memproduksi 6 ton padi per hektare. Pencapaian luar biasa ini patut diacungkan jempol, tentu keberhasilan ini tidak lepas dari uluran tangan pemerintah sebagai pemangku kebijakan.
Akan tetapi, persoalannya saat ini terletak pada hasil produksi yang dinilai menurun saban tahun.
“Kendala kami dalam jangka pendek itu cara pemasaran yang tersendat,” kata Kepala Desa Sajau Hilir, Syahrir saat dijumpai awak media.
Itu kalau tanaman yang diproduksi dalam jangka pendek. Akan tetapi kalau jenis tanaman padi, kata dia perlahan persoalan itu bisa ditangani berkat dukungan dan suport pemerintah lewat sejumlah program turunannya.
“Kalau bantuan pemerintah khususnya itu sudah luar biasa,” tegasnya.
Seingat kepala Desa Sajau Hilir, hasil produksi padi di wilayah ini pada tahun 2020 pernah menghasilkan 6 ton per hektare. Dengan luasan lahan yang digarap pada waktu itu sekitar 320 hektare, saat ini lahan cetak sawah kini bertambah kurang lebih 400 hektare yang telah digarap.
“Produksinya memang agak menurun, cuman lahan cetak sawahnya kita perluas,” katanya.
Padi unggulan Desa Sajau Hilir ini masih dipertahankan oleh jenis padi Mikongga dan Ciliwung. “Saat ini produksi petani malah menurun, yang sebelumnya mencapai 6 ton per hektare sekarang turun menjadi 4 ton per hektare. Kita akan terus berusaha untuk mengembikan nilai produksi menjadi 6 ton itu per hektare,” tuturnya.
Setelah ditelusuri, salah satu sebab turunnya nilai produksi padi tersebut dikarenakan aliran air yang tidak lancar. Sehingga, usulanya perbaikan pada irigasi.
“Kami melihat itu jadi hambatan sehingga produksi padi kami menurun. Tidak hanya nilai produksi, akibat kurang lancarnya aliran air ini mempengaruhi kualitas padi yang dihasilkan, bahasanya air pencemaran itu tidak keluar. Tapi, sekarang sudah diperbaiki semua,” bebernya.
Ia yang mewakili suara warga desanya berharap pemerintah jeli. Artinya, dapat sigap merespon apa yang menjadi keluhan para petani.
“Saya harap selalu memperhatikan apa yang menjadi kekurangan petani. Khususnya soal air, jadi air ini yang biasa kami terkendala,” bebernya.
Kalau kemarau semakin sulit. Meskipun sudah disediakan pompa air dan embungnya ada, tapi itu masih menuai persoalan karena cetak sawah akan semakin diperluas maka harus ditopang dengan persediaan air yang memadai.
“Kami coba atasi dengan membuat sumur bor, tapi itupun tidak maksimal. Makanya saya harap kepada pemerintah khususnya instansi terkait bagimana caranya supaya aliran airnya lancar,” tegasnya.
Kendati demikian, bantuan alat pertanian untuk membantu penanaman hingga cetak sawah dari pemerintah saat ini sudah membuat petani terbantu, namun yang harus diperhatikan jumlahnya. Mengingat cetak sawah ini berlanjut tiap tahun.
“Sekarang areal cetak sawah kita kurang lebih 400 hektare. Jumlah ini berpotensi terus bertambah,” bebernya.
Sementara itu, anggota DPRD Bulungan, Dapil II wilayah Tanjung Palas Timur, Lausa Ladia menyampaikan peran petani menjadi hal yang fundamental dalam menopang ketahanan pangan di Bulungan, sehingga dukungan alsintan saja belum cukup untuk meningkatkan produksi petani.
“Kita mendorong pemerintah supaya memperhatikan usulan petani. Supaya target swasembada pangan itu bisa tercapai,” tuturnya.
Namun, aspek lain yang lebih penting adalah bagimana menjamin hasil produksi petani bisa didukung dengan ketersediaan pasar. Ketika produk ini mampu bersaing dipasaran tentu menjadi pelecut semangat bagi para petani dalam menggarap lahan pertanian mereka.
“Disamping itu, harga jual juga menjadi pemicu semangat bagi para petani. Jadi tentu ini menjadi tugas bersama guna perbaikan komoditi yang kita hasilkan,” tutupnya.(rdk)

















